Memelihara Sanad Keilmuan Gontor, Perjalanan Panjang PP Baitul Arqom Jember Mengabdi untuk Umat
Tradisi ini diawali oleh K.H. Abdul Mu'id Sulaiman selaku lulusan tahun 1943, dilanjutkan generasi kedua K.H. Masykur Abdul Mu'id lulusan tahun 1968, kemudian generasi ketiga K.H. Izzat Fahd lulusan tahun 2002 dan H. Ismat Syauqi lulusan tahun 2004, hingga generasi keempat melalui cucu-cucu pendiri seperti Basma Tania alumni Mantingan tahun 2019 serta Haekal Nawafie yang kini menempuh jenjang Calon Pelajar di Gontor.
Selain itu, beberapa cucu lain yang tidak menempuh pendidikan langsung di Gontor tetap belajar di PP Baitul Arqom yang sanad keilmuannya tetap tersambung, di antaranya Iffat Maimunah dan Muhammad Imaduddin.
Sementara itu, Azmi Farhadi dipersiapkan menempuh pendidikan kedokteran agar kelak pesantren memiliki kader dokter spesialis. H. Ismat Syauqi menambahkan bahwa jika dihitung secara keseluruhan, terdapat lebih dari 30 hingga 50 anggota keluarga besar K.H. Abdul Mu'id Sulaiman yang mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai bentuk komitmen menjaga sanad kepondokmodernan.
Kelahiran Baitul Arqom pada dekade 1950-an juga tidak lepas dari dinamika perjuangan kemerdekaan dan penguatan benteng moral bangsa.
Sejak masa pra hingga pasca-kemerdekaan, para perintis aktif membina masyarakat desa serta menanamkan nilai-nilai nasionalisme berbasis keislaman. Di tengah situasi kemasyarakatan yang sempat terkotak-kotak oleh batas primordial pada masa awal berdirinya, Baitul Arqom mengadopsi prinsip Gontor yaitu berdiri di atas dan untuk semua golongan.
Model pendidikan tersebut terbukti mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat. Santri Baitul Arqom berasal dari latar belakang organisasi yang beragam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan Al-Irsyad, serta datang dari berbagai pelosok Indonesia mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Seluruh santri menyatu selama menempuh pendidikan dan kembali mengabdi di komunitasnya masing-masing setelah lulus, menjadikan Baitul Arqom hadir sebagai perekat umat.
Editor: Vitrianda Hilba Siregar