Kisah Haru Mat Tohir Sebagai Relawan Lalulintas di Jember 

Eko Riswanto
.
Rabu, 14 September 2022 | 16:41 WIB
Mat Tohir saat mengatur lalulintas di jalan simpang tiga Kencong (Foto; Naw)

Jember,iNews.id - Mat Tohir warga desa Wonorejo, kecamatan Kencong, Jember. Pria berusia 54 tahun yang berprofesi sebagai relawan pengatur jalanya lalu lintas di pertigaan Jalan Raya Jember-Lumajang sebelah timur Pasar Baru Kencong.

 

Ia mengapdikan dirinya sebagai pengatur Lalin di jalan simpang tiga itu sudah puluhan tahun. Meski ia harus berdiri dibawah terik matahari dan tidak mendapat bayaran, namun ia tetap semangat mengarahkan pengendara di jalan tersebut agar tidak terjadi kecelakaan.

 

Dilengkapi dengan Rompi dan bendera warna merah, pria 54 tahun, mengawasi dan mengerahkan tangan, sebagai isayarat kepada setiap pengemudi yang melaju, agar berhati-hati saat melintasi pertigaan tersebut. 

 

Nampak, terkadang terdapat pengendara tiba-tiba mengulurkan tangan memberi sedikit uang. Dari hasil pemberian itulah dia kumpulkan setiap harinya untuk menghidupi keluarganya.

 

"Sudah sepuluh tahunan jadi kayak gini, nggak digaji," ujar Mat Tohir saat menepi di pinggiran Jalan raya. Rabu (14/9/2022) 

 

Menurutnya, selama menjadi relawan Jalan ini, sumber pendapatan, berasal dari pemberian pengedara yang lewat. Sebab, tidak memperoleh tunjangan pemerintah. Sehingga pengahasilan dari bakti sosial tersebut tidak menentu. 

 

"Kalau pendapatan nggak nentu, Kira-kira paling dapat ya Rp20 ribu, paling banyak Rp25 ribu, dan itupun harus dibagai, kalau yang disini (relawan) ada orang dua ya dibagi orang dua, kalau disini orang tiga ya kita bagi orang tiga," jelasnya

 

Selain itu seragam rompi yang telah dipakai tersebut, berasal dari pemberian pengendara juga. Artinya, kata dia, selama jadi relawan lalu lintas, tidak ada fasilitas apapun dari pemerintah. "Seragam ini dikasih oleh orang-orang yang lewat itu, yang sering mau nyabrang Jalan itu," beber Mat Tohir. 

 

Bapak dua anak ini mengaku bahwa sebenarnya nomonal pendapatan dari relawan, sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Beruntung, masih memperoleh bantuan beras dari Program Keluarga Harapan (PKH). 

 

"Selain jadi ini pengarah Jalan, saya juga becak , soalnya memang sebelumnya saya ini tukang Becak, ada sekitar kurang lebih 30 tahun jadi tukang becak, sampai sekarang,"jelasnya Mat Tohir ini. 

 

Motivasi Warga Dusun Krajan C mau menjadi relawan lalu lintas, berawal dari alur kendaraan yang ramai, sehingga banyak orang yang kesulitan menyebrang.

 

"Akhirnya saya seberangkan, kalau nggak ada yang nyebarngkan, nggak bisa-bisa untuk nyebrang," jelas Mat Tohir lagi. 

 

Mengingat dipertigaan yang tenal Toko Ijo, Jalan Sukoreno tersebut juga sering terjadi kecelakaan, karena memang dilokasi itu juga tidak ada lampu lalu lintas. 

 

"Setelah saya jadi ini, kecelakaan anggak ada, kalau sebelumnya sering ada kecelakaan di pertigaan ini,"pungkasnya.

Editor : Abdul Muis Setiawan
Bagikan Artikel Ini